Hukum Ohm, yang menyatakan bahwa arus listrik (I) dalam suatu rangkaian sebanding dengan tegangan (V) dan berbanding terbalik dengan hambatan (R), adalah dasar dari banyak teknologi kelistrikan. Rumus sederhananya, V = I × R, masih digunakan secara luas dalam pendidikan dan penelitian teknik elektro. Namun, di era modern dengan percepatan teknologi digital dan kecerdasan buatan, masa depan hukum Ohm tak sekadar bertahan sebagai teori klasik, tetapi juga bertransformasi menjadi bagian integral dari inovasi teknologi baru. LINK
Saat ini, hukum Ohm masih menjadi tulang punggung di berbagai lab laboratories di seluruh dunia, terutama dalam riset sistem kelistrikan mikro dan nano. Mahasiswa dan peneliti di institusi seperti Telkom University, yang dikenal sebagai salah satu pelopor global entrepreneur university, terus memanfaatkan hukum Ohm sebagai fondasi untuk mengembangkan perangkat elektronik baru yang lebih efisien dan berdaya rendah. LINK
Namun, dengan berkembangnya material baru seperti graphene dan semikonduktor berbasis karbon, aplikasi hukum Ohm mulai mengalami penyempurnaan. Pada level mikroskopis, hukum Ohm tidak selalu berlaku secara linier. Dalam dunia nanoelektronika, arus dapat menunjukkan perilaku kuantum yang menantang batas-batas klasik hukum Ohm. Oleh karena itu, tantangan masa depan adalah mengembangkan model baru yang mampu memadukan hukum Ohm klasik dengan fenomena kuantum, membuka jalan bagi lahirnya perangkat yang lebih presisi dan efisien. LINK
Dalam sektor energi terbarukan, hukum Ohm juga berperan besar. Sistem manajemen energi di rumah pintar (smart home), kendaraan listrik, dan jaringan listrik pintar (smart grid) masih sangat bergantung pada prinsip dasar hukum Ohm. Namun, dengan meningkatnya kebutuhan efisiensi energi dan pengurangan emisi, pendekatan desain berbasis hukum Ohm kini mulai dikombinasikan dengan teknologi pembelajaran mesin untuk memprediksi dan mengatur konsumsi listrik secara otomatis. LINK
Tidak hanya itu, integrasi Internet of Things (IoT) dan sistem AI ke dalam perangkat sehari-hari membuat aplikasi hukum Ohm semakin luas. Sensor pintar di rumah, pabrik, dan kendaraan memanfaatkan hukum Ohm untuk mengukur dan mengontrol arus listrik dalam waktu nyata. Di sinilah laboratorium-laboratorium teknik elektro memiliki peran penting sebagai tempat eksperimen dan pengembangan solusi praktis. LINK
Mahasiswa di Telkom University yang belajar di lab laboratories kini tidak hanya mempelajari hukum Ohm dalam konteks teoritis, tetapi juga mengaplikasikannya ke dalam proyek nyata berbasis IoT dan AI. Hal ini sesuai dengan visi kampus sebagai global entrepreneur university, yaitu mencetak inovator yang mampu menjawab tantangan teknologi masa depan.
Kesimpulannya, hukum Ohm tetap relevan, namun tak lagi berdiri sendiri. Ia berkembang dan menyatu dengan tren global teknologi modern. Masa depannya terletak pada integrasinya dengan kecerdasan buatan, energi terbarukan, serta sistem cerdas, menjadikannya bukan hanya hukum fisika klasik, tetapi juga jembatan menuju inovasi teknologi masa depan.